Sunk Cost Fallacy
kenapa kita sulit melepaskan hubungan atau bisnis yang sudah jelas gagal
Pernahkah kita terjebak di dalam gedung bioskop, menonton film yang luar biasa membosankan? Plotnya berantakan dan aktingnya membuat kita mengernyitkan dahi. Di menit ke-20, kita sudah tahu film ini adalah sebuah bencana. Tapi, apakah kita berdiri dan keluar? Kebanyakan dari kita memilih untuk tetap duduk. Kita menahan kantuk dan penderitaan selama dua jam penuh. Alasannya sering kali cuma satu: "Sayang tiketnya, kan kita udah bayar mahal."
Mungkin kita menganggap itu hal yang sepele. Tapi coba pikirkan lagi. Logika "sayang sudah terlanjur" ini diam-diam sering menyusup ke dalam keputusan hidup kita yang paling krusial.
Mari kita naikkan levelnya. Kalau sekadar tiket bioskop, kerugian kita mungkin hanya beberapa puluh ribu rupiah dan dua jam waktu luang. Tapi bagaimana kalau logika yang sama kita pakai untuk hal yang lebih besar?
Banyak dari kita yang bertahan bertahun-tahun dalam hubungan romantis yang sudah jelas menguras emosi dan toxic. Kita menangis setiap malam, tapi kita meyakinkan diri, "Sayang kalau putus sekarang, kita sudah pacaran lima tahun." Hal yang sama terjadi di dunia profesional. Teman-teman mungkin pernah melihat seseorang terus menyuntikkan dana ke dalam bisnis yang terus merugi. Padahal data penjualan sudah berteriak bahwa bisnis itu akan karam.
Dalam sejarah manusia, hal ini bahkan terjadi di level negara. Pada pertengahan abad ke-20, pemerintah Inggris dan Prancis bekerja sama membangun pesawat penumpang supersonik bernama Concorde. Di tengah jalan, mereka menyadari bahwa pesawat ini tidak akan pernah membawa keuntungan secara komersial. Biaya pembuatannya membengkak luar biasa. Tapi bukannya membatalkan proyek tersebut, mereka justru terus menggelontorkan miliaran dolar. Kenapa? Karena mereka merasa sudah terlalu banyak berinvestasi untuk mundur.
Pertanyaannya, apakah kita, dan para ahli di pemerintahan Inggris dan Prancis itu, mendadak kehilangan akal sehat?
Tentu saja tidak. Bertahan pada sesuatu yang menyakiti kita bukanlah pertanda kebodohan. Ini adalah bukti bahwa kita manusia biasa.
Psikologi dan neurosains punya penjelasan yang sangat menarik soal ini. Saat kita dihadapkan pada pilihan untuk melepaskan sesuatu yang sudah kita bangun, ada sebuah pertarungan rahasia di dalam kepala kita. Pertarungan ini terjadi antara bagian otak yang bertugas berpikir logis secara jangka panjang, melawan bagian otak purba yang sangat emosional.
Bagian otak purba ini tidak peduli pada data, tidak peduli pada kebahagiaan masa depan, dan tidak peduli pada kerugian finansial di kemudian hari. Ia hanya peduli pada satu hal: rasa sakit yang terjadi hari ini. Otak kita rupanya merespons sebuah "kehilangan" sama seperti ia merespons ancaman fisik. Tapi, apa sebenarnya nama fenomena ini? Dan kenapa ia begitu kuat mengendalikan kita?
Selamat datang di jebakan psikologis bernama sunk cost fallacy atau sesat pikir biaya hangus.
Dalam hard science, fenomena ini sangat erat kaitannya dengan bias kognitif yang disebut loss aversion (penghindaran kerugian). Ilmuwan perilaku peraih Nobel, Daniel Kahneman, menemukan fakta mengejutkan: rasa sakit psikologis yang kita rasakan saat kehilangan sesuatu, besarnya dua kali lipat dibandingkan rasa senang saat kita mendapatkan sesuatu dengan nilai yang sama.
Kehilangan uang, kehilangan waktu lima tahun dalam sebuah hubungan, atau hilangnya gengsi karena menutup bisnis, akan langsung mengaktifkan amigdala kita. Amigdala adalah pusat rasa takut di otak. Saat amigdala menyala, korteks prefrontal—bagian otak yang bertugas untuk berpikir rasional dan logis—akan diredam.
Inilah plot twist-nya. Saat kita memutuskan untuk bertahan dalam hubungan atau bisnis yang gagal, kita sebenarnya tidak sedang memikirkan masa depan. Kita sedang mati-matian mencoba "membeli kembali" masa lalu. Kita berharap waktu, tenaga, dan emosi yang sudah hangus itu bisa kembali menjadi investasi yang untung. Padahal, secara realitas, biaya yang sudah hangus ya sudah hangus. Masa lalu tidak bisa diubah oleh penderitaan kita di masa kini.
Memahami cara kerja otak ini rasanya cukup melegakan, bukan? Saat kita kesulitan melepaskan sesuatu, itu bukan berarti kita lemah. Kita hanya sedang berhadapan dengan sistem operasi biologis yang sudah tertanam selama jutaan tahun.
Tapi, kabar baiknya, kita bisa meretas sistem ini. Karena sekarang kita sudah tahu rahasianya, kita bisa mulai berlatih untuk mengambil jeda. Saat kita ragu apakah harus bertahan atau melepaskan, cobalah tanyakan satu pertanyaan ini pada diri sendiri: "Jika saya baru memulai hari ini, tanpa ada ikatan dan biaya yang sudah saya keluarkan di masa lalu, apakah saya akan tetap memilih opsi ini?" Jika jawabannya tidak, teman-teman tahu apa yang harus dilakukan.
Dalam budaya kita, menyerah sering kali dicap sebagai kelemahan. Padahal, sains mengajarkan hal sebaliknya. Menghentikan kerugian tepat waktu adalah bentuk kecerdasan tingkat tinggi. Kadang, keberanian terbesar bukanlah bertahan sampai berdarah-darah. Keberanian terbesar adalah tahu kapan waktu yang tepat untuk mengepak barang, merelakan yang sudah pergi, dan melangkah maju untuk cerita yang baru.